Memuat halaman...

GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT GENERASI SEHAT, MASA DEPAN HEBAT

Kegiatan

berbagai kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya

PHBS di Pesantren Cegah Gatal Menular pada Santri

03 Aug 2026

PHBS di Pesantren Cegah Gatal Menular pada Santri

Gatal di Pesantren, Jangan Selalu Dianggap Sepele Keluhan gatal cukup mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantren, satu santri mungkin mulai mengeluh gatal pada malam hari, lalu beberapa hari kemudian teman sekamarnya merasakan hal serupa. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan, terutama bila keluhan terus muncul atau menyebar. Lingkungan pesantren membuat santri tinggal dan beraktivitas bersama. Kamar tidur, kamar mandi, tempat jemur, hingga berbagai kegiatan dilakukan berdekatan. Karena itu, penyakit kulit yang dapat menular melalui kontak dekat lebih mudah menyebar bila tidak segera ditangani. Penyakit Kulit Apa yang Perlu Diwaspadai? Skabies atau kudis merupakan salah satu penyakit kulit yang relevan di lingkungan hunian bersama. Menurut WHO, skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penularannya terutama terjadi melalui kontak kulit yang erat dan cukup lama dengan orang yang terinfestasi. Lingkungan yang padat dapat meningkatkan risiko penularan. Gejala yang sering muncul adalah rasa gatal hebat, terutama pada malam hari, disertai bintil atau ruam. Keluhan dapat muncul di sela jari, pergelangan tangan, lengan, sekitar pinggang, dan bagian tubuh lainnya. Selain skabies, infeksi jamur seperti kurap atau dermatofitosis juga perlu diperhatikan. Sebuah penelitian pada 339 siswa boarding school di Pelalawan, Riau, menemukan dermatofitosis pada sebagian siswa yang diperiksa. Penelitian tersebut tidak mewakili seluruh pesantren di Indonesia, tetapi menunjukkan bahwa infeksi jamur memang dapat ditemukan di lingkungan asrama. PHBS Bisa Dimulai dari Hal Sederhana Menjaga kesehatan kulit tidak harus dimulai dari aturan yang rumit. Pengurus pesantren dan kader santri kesehatan dapat membiasakan beberapa langkah sederhana berikut: • Jangan bertukar handuk, pakaian, sarung, atau perlengkapan tidur. • Mandi secara teratur dan keringkan tubuh dengan baik. • Segera ganti pakaian yang basah atau penuh keringat. • Jaga kamar, kamar mandi, dan tempat tidur tetap bersih. • Jemur dan rawat perlengkapan tidur secara berkala sesuai kondisi fasilitas. • Segera laporkan bila muncul gatal atau ruam, terutama jika teman sekamar mengalami keluhan serupa. Kebiasaan sederhana tersebut sejalan dengan semangat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu menjadikan perilaku sehat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kalau Ada Santri yang Gatal, Harus Bagaimana? Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tidak mengejek atau menyalahkan santri yang sedang mengalami keluhan. Penyakit kulit bisa dialami siapa saja. Jika dicurigai skabies atau penyakit kulit menular, santri sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan. Pengurus dapat berkoordinasi dengan puskesmas, klinik, atau fasilitas kesehatan terdekat. Hindari membagikan obat kepada teman hanya karena gejalanya terlihat sama, karena gatal dan ruam dapat disebabkan oleh banyak kondisi. Untuk skabies, WHO dan CDC menekankan pentingnya penanganan orang yang terinfestasi dan kontak dekat secara terkoordinasi agar penularan dan infeksi ulang dapat dicegah. Pakaian, handuk, serta perlengkapan tidur yang digunakan juga perlu ditangani sesuai arahan tenaga kesehatan. Kader Santri Kesehatan Tidak Harus Menjadi “Dokter” Kader santri kesehatan memiliki peran penting, tetapi bukan untuk menentukan diagnosis. Perannya adalah menjadi penggerak kebiasaan sehat dan membantu menemukan masalah lebih awal. Kader dapat mengingatkan teman agar tidak bertukar handuk, membantu mengawasi kebersihan kamar, serta mengajak santri segera melapor ketika mengalami gatal atau ruam. Bila beberapa santri dalam satu kamar mengalami keluhan yang sama, informasi tersebut sebaiknya segera disampaikan kepada pengurus dan tenaga kesehatan. Edukasi juga dapat dibuat sederhana. Misalnya: “Handuk itu barang pribadi”, “Jangan tidur dengan baju yang masih berkeringat”, atau “Kalau gatal terus pada malam hari, segera lapor.” Pesan pendek seperti ini lebih mudah diingat oleh santri. Kapan Perlu Dibawa ke Tenaga Kesehatan? Santri sebaiknya diperiksa bila gatal atau ruam semakin luas, mengganggu tidur, dialami beberapa teman dalam satu kamar, tidak kunjung membaik, atau muncul luka akibat garukan. Pemeriksaan lebih cepat juga diperlukan bila terdapat nanah, bengkak, nyeri yang bertambah, atau demam. WHO menjelaskan bahwa garukan akibat skabies dapat menyebabkan luka pada kulit dan membuka jalan bagi infeksi bakteri. Karena itu, keluhan gatal yang terus berlangsung sebaiknya tidak dibiarkan. Pesantren Sehat Dimulai dari Kebiasaan Bersama Mencegah penyakit kulit di pesantren tidak cukup hanya dengan mengingatkan santri untuk mandi. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bersama: menjaga kebersihan diri, tidak bertukar barang pribadi, menjaga pakaian dan tubuh tetap kering, membersihkan lingkungan, serta berani melapor ketika ada keluhan. Pengurus pesantren dapat membangun sistemnya, sedangkan kader santri kesehatan membantu menghidupkan kebiasaannya. Dengan PHBS yang dilakukan bersama, masalah kulit dapat dikenali lebih awal dan risiko penularan dapat ditekan. Catatan: Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau terapi dari tenaga kesehatan.

Lihat Detail → Pesantren QSBS Al-Kautsar 561 - Cineam
Selamat dan Sukses atas terpilihnya sebagai Ketua IDI Cabang Kabupaten Tasikmalaya

19 Jul 2026

Selamat dan Sukses atas terpilihnya sebagai Ketua IDI Cabang Kabupaten Tasikmalaya

Sejumlah lembaga dan organisasi profesi secara resmi menyampaikan ucapan sukses atas terpilihnya dr. Dedi Kusmayadi. Kepemimpinan dr. Dedi Kusmayadi diharapkan mampu membawa kemajuan signifikan bagi organisasi profesi serta berkontribusi nyata dalam mendongkrak mutu pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya. Organisasi menekankan pentingnya mempererat kolaborasi antaranggota, memperkuat nilai profesionalisme, serta membangun solidaritas yang lebih kokoh di lingkungan dokter. Manajemen baru ini didorong untuk melahirkan berbagai inovasi strategis dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di daerah. dr. Dedi Kusmayadi secara resmi terpilih sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Tasikmalaya periode 2026–2029. Terpilihnya dr. Dedi Kusmayadi dalam menakhodai organisasi profesi kedokteran ini mendapat sambutan hangat serta ucapan selamat dari berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Tasikmalaya, mulai dari jajaran rumah sakit hingga berbagai UPTD Puskesmas. Melalui kepemimpinan baru ini, ia diharapkan mampu membawa perubahan positif, menjaga integritas profesi, serta mengayomi seluruh dokter yang bertugas di Kabupaten Tasikmalaya. Dengan masa bakti tiga tahun ke depan, dr. Dedi Kusmayadi mengemban amanah besar untuk memperkuat solidaritas internal dan mendorong inovasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Kehadirannya sebagai ketua baru juga diharapkan dapat mempererat kolaborasi strategis antara IDI Kabupaten Tasikmalaya dengan pemerintah daerah, khususnya dalam menyukseskan program-program pemenuhan derajat kesehatan masyarakat yang merata dan bermutu di wilayah ini.

Lihat Detail → Hotel Grand Metro
EVAKUASI PASIEN JIWA BERAT SECARA MASSAL

02 Jul 2026

EVAKUASI PASIEN JIWA BERAT SECARA MASSAL

Evaluasi SPM ODGJ 2026: Dinas Kesehatan Petakan Tantangan dan Siapkan 5 Solusi Strategis Pelayanan Kesehatan Jiwa TASIKMALAYA – Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menggelar pertemuan lintas program guna menganalisis Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Terlayani Sesuai Standar Tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan di lapangan sekaligus merumuskan langkah taktis dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan jiwa di seluruh wilayah kerja Puskesmas. Berdasarkan hasil pemetaan tim kerja di lapangan, terdapat beberapa kendala utama yang memengaruhi optimalisasi capaian SPM ODGJ, antara lain: • Faktor Pasien dan Keluarga: Banyak pasien berpindah domisili ke luar kota, menghentikan pengobatan secara sepihak karena merasa sudah sembuh, atau bosan minum obat. Selain itu, beberapa keluarga menolak pengobatan (bahkan hingga membuat surat pernyataan tertulis), putus asa dengan proses kesembuhan, atau sudah lanjut usia sehingga kelelahan dalam mengurus pasien. • Faktor Akses dan Budaya: Kendala geografis dan keterbatasan biaya transportasi menuju tempat pengambilan obat masih menjadi beban ekonomi bagi keluarga. Di sisi lain, pemahaman masyarakat tentang kesehatan jiwa masih minim, ditandai dengan masih banyaknya ODGJ yang dibawa ke pengobatan alternatif atau dukun. • Faktor Layanan dan Lintas Sektor: Adanya penurunan keaktifan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di beberapa wilayah pasca-pergantian pimpinan kecamatan. Di tingkat faskes, beban kerja petugas yang rangkap tugas, manajemen waktu, serta padatnya persiapan akreditasi membuat agenda kunjungan lapangan dan intervensi kontak pasien belum terlaksana secara maksimal. Merespons dinamika tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya telah menetapkan 5 Solusi Strategis yang akan segera diimplementasikan secara masif: 1. Meningkatkan Case Finding Melalui Deteksi Dini: Menggencarkan penemuan kasus baru di masyarakat agar ODGJ bisa mendapatkan penanganan sedini mungkin. 2. Optimalisasi Layanan Kesehatan Jiwa: Menyiapkan sarana, prasarana, dan kapasitas SDM pelayan keswa secara optimal, baik di tingkat Puskesmas maupun RSUD. 3. Jaminan Ketersediaan Obat: Mengupayakan ketersediaan logistik obat-obatan psikofarmaka yang memadai dan berkelanjutan di setiap fasilitas kesehatan. 4. Penguatan Home Visit dan Home Care: Meningkatkan frekuensi kunjungan rumah dan pendampingan kepatuhan minum obat oleh petugas kesehatan yang berkolaborasi aktif dengan kader kesehatan. 5. Edukasi dan Sosialisasi Masif: Mengikis stigma negatif dan meningkatkan literasi masyarakat mengenai gangguan kejiwaan melalui penyuluhan berkala. Melalui komitmen pembenahan sistem dan penguatan inovasi pelayanan ini, Dinas Kesehatan optimistis target SPM ODGJ Tahun 2026 dapat tercapai, sekaligus mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya yang lebih peduli dan inklusif terhadap kesehatan jiwa masyarakatnya.

Lihat Detail → Gedung Pramuka Kabupaten Tasikmalaya
TES KEBUGARAN JASMANI KARYAWAN BKPSDM KABUPATEN TASIKMALAYA

22 Jun 2026

TES KEBUGARAN JASMANI KARYAWAN BKPSDM KABUPATEN TASIKMALAYA

BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya melaksanakan kegiatan Tes Kebugaran bagi seluruh karyawan sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan, kebugaran jasmani, serta produktivitas aparatur. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen dalam mewujudkan budaya kerja yang sehat dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Juni 2026 ini diikuti oleh 36 karyawan dan mendapat pendampingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. Sebelum pelaksanaan tes, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kondisi fisik yang meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, tinggi badan, dan berat badan. Pemeriksaan awal tersebut bertujuan untuk memastikan setiap peserta berada dalam kondisi yang aman sebelum mengikuti rangkaian tes kebugaran. Setelah pemeriksaan kesehatan, peserta mengikuti tahapan pemanasan, pelaksanaan tes kebugaran, hingga pendinginan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya guna memastikan pelaksanaan tes berjalan dengan aman, tertib, dan sesuai standar. Hasil tes memberikan gambaran mengenai tingkat kebugaran masing-masing pegawai serta menjadi bahan evaluasi dalam mendorong penerapan pola hidup sehat dan peningkatan aktivitas fisik secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya berharap seluruh pegawai semakin termotivasi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran sebagai modal utama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai aparatur sipil negara. Pegawai yang sehat dan bugar diharapkan mampu memberikan kinerja yang optimal, meningkatkan disiplin kerja, serta memberikan pelayanan publik yang semakin berkualitas. Kegiatan tes kebugaran ini juga menjadi wujud sinergi antara BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dalam mendukung terciptanya lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala sebagai bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat di lingkungan kerja.

Lihat Detail → Kantor BKPSDM
PERTEMUAN TEKNIS DATA DAN INFORMASI KESEHATAN SERTA SOSIALISASI E-PUSKESMAS CONNEXT

27 Apr 2026

PERTEMUAN TEKNIS DATA DAN INFORMASI KESEHATAN SERTA SOSIALISASI E-PUSKESMAS CONNEXT

ePus Connext (sering disebut epus connect) adalah aplikasi mobile berbasis Android yang dikembangkan oleh Infokes untuk kader Posyandu dan petugas kesehatan. Aplikasi ini berfungsi mempermudah pencatatan, pemantauan kondisi pasien, dan pelaporan hasil layanan kesehatan langsung di tingkat masyarakat. Berikut adalah poin penting mengenai epus connect: • Fungsi Utama: Memperkenalkan antarmuka baru yang lebih responsif, integrasi modul farmasi, laboratorium, dan pendaftaran mandiri. Melakukan pencatatan layanan, memantau kondisi pasien, dan pelaporan hasil. • Pengguna: Kader Posyandu dan petugas kesehatan, khususnya dalam konteks Integrasi Layanan Primer (ILP). • Sinergi: Bagian dari ekosistem ePuskesmas Infokes yang terintegrasi dengan data Puskesmas. • Keunggulan: Sistem berbasis cloud yang memudahkan sinkronisasi data secara real-time ke sistem dinas maupun pusat. Mempermudah kader dalam mencatat data Posyandu secara digital. • Migrasi: Proses transisi data dari versi lama ke versi Connext akan didampingi oleh tim teknis agar tidak ada data yang hilang.

Lihat Detail → Hotel Al Hambra
ORIENTASI SDIDTK BAGI TENAGA PELAYANAN KESEHATAN

07 Apr 2026

ORIENTASI SDIDTK BAGI TENAGA PELAYANAN KESEHATAN

KEGIATAN ORIENTASI SDIDTK BAGI TENAGA PELAYANAN KESEHATAN Definisi Deteksi Dini Timbuh Kembang Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan ( UU Perlindungan anak No 23 Tahun 2002). Kegiatan/ Pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan. Kenapa perlu deteksi dini karena untuk kualitas kembang anak, kualitas generasi penerus dan kualitas bangsa. Apabila deteksi terlambat dan penanganan terlambat maka sangat sukar untuk diperbaiki. Yang harus dipantau adalah semua anak dan yang memantau adalah dokter, bidan/ perawat. Deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar: - Pemantauan Perkembangan untuk mengetahui keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara-bahasa, personal sosial-kemandirian), gangguan daya lihat dan gangguan daya dengar - Pemantauan Perilaku Emosional 🡪 untuk mengetahui Masalah Mental Emosional, Autisme dan Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas ALAT PEMANTAUAN DAN PERTUMBUHAN KMS TABEL BB/ TB KURVA WHO KURVA CDC LK : GRAFIK WHO

Lihat Detail → Hotel Al Hambra